Bahasa Kawi terasa berbeda bukan karena ia "bahasa Sanskerta versi Jawa", melainkan karena pembaca berhadapan dengan lapisan bahasa dan kosakata dari masa yang berbeda. Kawi adalah nama lain bahasa Jawa Kuno, fase tertua bahasa Jawa. Meski menerima pengaruh Sanskerta yang kuat, bahasa ini tetap termasuk rumpun Austronesia, bukan turunan Sanskerta [1].
Jejak Sanskerta ada pada kosakata, bukan asal bahasanya
Pengaruh Sanskerta pada bahasa Jawa Kuno berkaitan antara lain dengan penggunaannya sebagai bahasa keagamaan Hindu dan Buddha Mahayana. Pengaruh itu tampak pada kosakata, dan sumber juga mencatat pengaruh pada fonologi [1]. Jadi, kata yang terasa asing belum tentu membuat seluruh bahasa dalam teks itu asing: bahasa dasarnya tetap Jawa Kuno, sementara sebagian kosakatanya membawa jejak pinjaman Sanskerta [1].
Gambaran jumlah kosakata dalam kamus memberi petunjuk tentang besarnya pengaruh tersebut. Kamus bahasa Jawa Kuno-Inggris yang disusun P.J. Zoetmulder pada 1982 memuat sekitar 25.500 kata; kira-kira 12.500 di antaranya, atau 49 persen, merupakan kata pinjaman Sanskerta [1]. Angka itu merujuk pada isi kamus, bukan berarti setiap karya Kawi memakai perbandingan yang sama.
Ada batas penting pada gambaran kamus itu: sumbernya berupa tulisan Jawa Kuno yang masih tersisa, sehingga kosakatanya mungkin lebih mencerminkan pemakaian dalam sastra dan lingkungan istana daripada percakapan masyarakat umum. Sumber tersebut juga memperkirakan masyarakat umum mungkin lebih banyak memakai kosakata asli Jawa Kuno yang berasal dari rumpun Austronesia [1]. Karena itu, menyamakan kosakata dalam karya sastra Kawi dengan bahasa sehari-hari bisa mengaburkan perbedaan konteks pemakaian.
Konteks karya membantu membaca nuansa
Karya sastra Jawa abad pertengahan yang ditulis dalam bahasa Jawa Kuno dengan aksara Kawi disebut layang kawi atau kakawin [1]. Dalam teks seperti ini, sebuah kata lebih berguna dibaca bersama kalimat dan pokok bahasannya daripada langsung dicari padanan sehari-harinya. Jika suatu istilah terasa dekat dengan tradisi Sanskerta, misalnya, konteks keagamaan dapat menjadi salah satu petunjuk karena Sanskerta pernah digunakan sebagai bahasa keagamaan Hindu dan Buddha Mahayana [1].
Ini bukan alasan untuk menganggap setiap kata pinjaman punya makna keagamaan, atau bahwa semua kakawin memakai kosakata dengan cara yang sama. Cara yang lebih cermat adalah menahan kesimpulan sampai hubungan kata dengan bagian teksnya terlihat: apakah kata itu menjelaskan gagasan utama, muncul dalam ungkapan sastra, atau sekadar menjadi salah satu unsur kosakata.
Bahasa Kawi dan aksara Kawi berbeda
Bahasa Kawi adalah bahasa; aksara Kawi adalah sistem tulisan. Aksara Kawi kerap dipakai untuk menuliskan bahasa Jawa Kuno, tetapi tulisan beraksara Kawi juga dapat memuat bahasa Sanskerta, Melayu Kuno, Bali Kuno, Sunda Kuno, atau Khmer Kuno [2]. Maka, bentuk aksara saja tidak cukup untuk memastikan bahasa sebuah teks. Pembaca perlu memisahkan petunjuk visual tulisan dari kosakata dan susunan bahasanya.
Perhatikan lapisan zamannya
Bahasa Jawa Kuno tidak berhenti pada satu bentuk yang tetap. Bahasa Jawa pada masa Majapahit, yang berdiri pada akhir abad ke-13, dianggap lebih dekat ke Jawa Pertengahan karena telah mengalami perubahan ke arah bahasa Jawa modern [1]. Sementara itu, sejak abad ke-18, karya yang terinspirasi oleh bahasa Jawa Kuno mulai ditulis dengan bahasa dan syair Jawa modern [1]. Jadi, karya yang mengambil ilham dari Kawi belum tentu menggunakan bahasa Kawi.
Untuk menangkap nuansa teks, pisahkan tiga petunjuk: bahasa yang dipakai, aksara yang menuliskannya, dan lapisan zaman atau konteks sastranya. Kosakata dapat membuka jalan membaca, tetapi tidak berdiri sendiri sebagai terjemahan langsung dari percakapan sehari-hari.
Sumber
- [1] Wikipedia bahasa Indonesia β Bahasa Jawa Kuno. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=29796483&title=Bahasa_Jawa_Kuno (diakses 2026-10-03).
- [2] Wikipedia bahasa Indonesia β Aksara Kawi. https://id.wikipedia.org/w/index.php?oldid=30014673&title=Aksara_Kawi (diakses 2026-10-03).